Hari yang dinanti dan
tak dinanti pun tiba, tepatnya sebulan sebelum bulan Ramadhan keluargaku turut
mengantarkanku menuju sebuah tempat yang tak pernah kami kunjungi sebelumnya. Perjalanan
3 jam pun kami tempuh melalui tol purbaleunyi. Mobil avanza yang kami tumpangi berhenti di sebuah rumah besar dengan anggota
keluarga yang ramah dan sederhana. Rupanya mereka telah menunggu kedatanganku
dan keluarga. Assalamuaialakum kami semua menyapa sebelum memasuki rumah dan
kulihat seorang nenek tua, keriput serta dengan bahasa Sunda kental yang tak
kami pahami menyilahkanku dan keluarga untuk memasuki rumah tersebut. Komunikasi
pun berlangsung kaku, alot tetapi lancar karena faktor perbedaaan bahasa yang
kami alami sebagai kendala, beruntunglah dengan bantuan teman dari abangku sebagai
translator, mereka semua memahami maksud keluarga ku yang menitipkan anak
bontotnya (anak terakhir) kepada mereka selama mengenyam pendidikan di
Universitas Padjadjaran, Jatinangor Sumedang.
Setelahnya pak Dadang,
salah satu dari anak mereka menunjukkan kami sebuah kamar kecil berukuran 3x3
meter yang hanya berisikan kasur yang memang telah dipersiapkan untukku sebagai
tempat tinggal ku mulai saat ini. Terdapat kamar mandi di sebelah kamarku dan
juga terdapat musholla yang tak jauh dari kamarku. Satu persatu barang-barang
ku pun diturunkan oleh keluargaku, setelah kami selesai memasukan barang dan
menatanya. Kami semua beranjak untuk ke Kampus ku untuk mengurus administrasi
yang memang telah ditentukan, acara pun di lanjutkan dengan berkeliling kampus
oleh Tomi (teman abangku) sebagai pemandu
hehehe, rasa lelah menghampiri kami lalu kami berhenti di salah satu taman
yaitu Arboretum untuk menikmati hidangan makan siang yang memang ibuku telah
membawanya dari Jakarta, selintas seperti acara piknik gumamku dalam hati!
Perjalanan di lanjutkan
dengan membeli oleh-oleh tahu Sumedang dan Peyeum (tape) khas Jawa Barat, hemm ini sih bukan acara mengantar anaknya di perantauan tetapi acara jalan-jalan
keluar kota candaku keluar. Ibuku yang dari tadi duduk disampingku, memelukku
serta tak hentinya menangis karena ya, berat rasanya harus hidup jauh dari anak
bontot perempuannya yang tersayang ini. Sekembalinya ke kost ku yang baru dan
moment ini lah yang paling aku benci sekaligus membuatku lemah karena aku harus
memeluk, berpamitan kepada mereka satu persatu untuk melanjutkan kehidupanku
yang baru di sini. Tak ayal mereka pun memberikan banyak wejangan – wejangan kedapaku
sembari menyeka air mata di pipiku yang tanpa sadar menetes kala itu. Setelah berdiskusi,
rupanya mereka tak tega juga untuk meninggalkanku sendiri di sini, maka kakak
perempuanku harus merelakan waktunya selama sebulan untuk menemaniku sampai aku
memiliki teman dan mandiri.
Aku telah memilih dan
diterima di Universitas Padjadjaran yang artinya aku menerima resiko untuk jauh
dari keluargaku. Aku harus berubah dari gadis kecil yang manja menjadi gadis
yang mandiri untuk bertahan hidup di kota perantuan. Ya, walaupun hanya
berjarak 3 jam perjalanan melalui darat tetapi aku harus membuktikan kepada
mereka betapa aku bisa menjaga diri dan menunjukkan dengan prestasi serta hasil
akademikku yang bagus nanti. Aku harus jadi orang, aku tidak boleh
menyia-siakan waktu, kpercayaan keluarga, uang dan tenaga selama 4 tahun di
Jawa Barat. Saatnya gerbang kehidupanku yang baru pun dimulai dan keyakinan ,
harapan, niat serta doa tertempel di bahuku dengan pasti.
No comments:
Post a Comment