Wednesday, 13 May 2015

Gerbang Kehidupan




Hari yang dinanti dan tak dinanti pun tiba, tepatnya sebulan sebelum bulan Ramadhan keluargaku turut mengantarkanku menuju sebuah tempat yang tak pernah kami kunjungi sebelumnya. Perjalanan 3 jam pun kami tempuh melalui tol purbaleunyi. Mobil avanza yang kami tumpangi  berhenti di sebuah rumah besar dengan anggota keluarga yang ramah dan sederhana. Rupanya mereka telah menunggu kedatanganku dan keluarga. Assalamuaialakum kami semua menyapa sebelum memasuki rumah dan kulihat seorang nenek tua, keriput serta dengan bahasa Sunda kental yang tak kami pahami menyilahkanku dan keluarga untuk memasuki rumah tersebut. Komunikasi pun berlangsung kaku, alot tetapi lancar karena faktor perbedaaan bahasa yang kami alami sebagai kendala, beruntunglah dengan bantuan teman dari abangku sebagai translator, mereka semua memahami maksud keluarga ku yang menitipkan anak bontotnya (anak terakhir) kepada mereka selama mengenyam pendidikan di Universitas Padjadjaran, Jatinangor Sumedang. 


Setelahnya pak Dadang, salah satu dari anak mereka menunjukkan kami sebuah kamar kecil berukuran 3x3 meter yang hanya berisikan kasur yang memang telah dipersiapkan untukku sebagai tempat tinggal ku mulai saat ini. Terdapat kamar mandi di sebelah kamarku dan juga terdapat musholla yang tak jauh dari kamarku. Satu persatu barang-barang ku pun diturunkan oleh keluargaku, setelah kami selesai memasukan barang dan menatanya. Kami semua beranjak untuk ke Kampus ku untuk mengurus administrasi yang memang telah ditentukan, acara pun di lanjutkan dengan berkeliling kampus oleh Tomi (teman abangku)  sebagai pemandu hehehe, rasa lelah menghampiri kami lalu kami berhenti di salah satu taman yaitu Arboretum untuk menikmati hidangan makan siang yang memang ibuku telah membawanya dari Jakarta, selintas seperti acara piknik gumamku dalam hati!

Perjalanan di lanjutkan dengan membeli oleh-oleh tahu Sumedang dan Peyeum (tape) khas Jawa Barat, hemm ini sih bukan acara mengantar anaknya di perantauan tetapi acara jalan-jalan keluar kota candaku keluar. Ibuku yang dari tadi duduk disampingku, memelukku serta tak hentinya menangis karena ya, berat rasanya harus hidup jauh dari anak bontot perempuannya yang tersayang ini. Sekembalinya ke kost ku yang baru dan moment ini lah yang paling aku benci sekaligus membuatku lemah karena aku harus memeluk, berpamitan kepada mereka satu persatu untuk melanjutkan kehidupanku yang baru di sini. Tak ayal mereka pun memberikan banyak wejangan – wejangan kedapaku sembari menyeka air mata di pipiku yang tanpa sadar menetes kala itu. Setelah berdiskusi, rupanya mereka tak tega juga untuk meninggalkanku sendiri di sini, maka kakak perempuanku harus merelakan waktunya selama sebulan untuk menemaniku sampai aku memiliki teman dan mandiri.

Aku telah memilih dan diterima di Universitas Padjadjaran yang artinya aku menerima resiko untuk jauh dari keluargaku. Aku harus berubah dari gadis kecil yang manja menjadi gadis yang mandiri untuk bertahan hidup di kota perantuan. Ya, walaupun hanya berjarak 3 jam perjalanan melalui darat tetapi aku harus membuktikan kepada mereka betapa aku bisa menjaga diri dan menunjukkan dengan prestasi serta hasil akademikku yang bagus nanti. Aku harus jadi orang, aku tidak boleh menyia-siakan waktu, kpercayaan keluarga, uang dan tenaga selama 4 tahun di Jawa Barat. Saatnya gerbang kehidupanku yang baru pun dimulai dan keyakinan , harapan, niat serta doa tertempel di bahuku dengan pasti.

No comments:

Post a Comment